Ekspor Batu Bara Jambi Anjlok 81,78 Persen hingga Mei 2026, Kinerja Perdagangan Daerah Tertekan
WIDYA – Kinerja ekspor batu bara Provinsi Jambi mengalami penurunan tajam sepanjang Januari hingga Mei 2026. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jambi, nilai ekspor batu bara tercatat hanya mencapai 6,08 juta dolar Amerika Serikat, atau turun 81,78 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2025 yang mencapai 33,39 juta dolar AS. Penurunan tersebut turut memberikan tekanan terhadap sektor pertambangan yang selama ini menjadi salah satu penopang utama ekspor daerah.
Kepala BPS Provinsi Jambi, Aidil Adha, menyampaikan bahwa total nilai ekspor Provinsi Jambi pada Mei 2026 mencapai 194,72 juta dolar AS, menurun 5,27 persen dibandingkan April 2026 yang sebesar 205,55 juta dolar AS. Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh turunnya ekspor sejumlah komoditas unggulan nonmigas, seperti pinang, kopi, teh dan rempah-rempah, minyak nabati, karet beserta produk turunannya, kayu lapis, serta pulp dan kertas.
Di sisi lain, komoditas minyak dan gas bumi (migas) justru mencatat peningkatan sehingga mampu menahan penurunan ekspor secara lebih dalam.
Batu Bara Masih Mengalami Tekanan
Secara bulanan, kelompok pertambangan memang mencatat pertumbuhan sebesar 16,36 persen dengan nilai ekspor mencapai 100,89 juta dolar AS. Namun, peningkatan tersebut terutama berasal dari kenaikan ekspor gas alam, bukan batu bara.
BPS mencatat bahwa ekspor batu bara masih berada dalam tren pelemahan. Bahkan pada April 2026 nilai ekspor batu bara tercatat nihil setelah sebelumnya pada Maret 2026 masih mencapai sekitar 553 ribu dolar AS.
Secara kumulatif hingga Mei 2026, nilai ekspor kelompok pertambangan tercatat sebesar 375,07 juta dolar AS, turun 15,72 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Menurut Aidil Adha, penurunan tersebut dipengaruhi oleh melemahnya ekspor komoditas migas maupun batu bara yang selama ini menjadi salah satu komoditas unggulan Provinsi Jambi.
Industri Pengolahan Jadi Penyumbang Terbesar
Meski mengalami penurunan, sektor pertambangan masih menjadi penyumbang ekspor terbesar kedua di Provinsi Jambi dengan kontribusi 45,13 persen terhadap total nilai ekspor daerah.
Sementara itu, sektor industri pengolahan menjadi kontributor terbesar dengan pangsa mencapai 50,12 persen, menunjukkan meningkatnya peran produk hasil pengolahan dalam struktur ekspor daerah.
Secara keseluruhan, total nilai ekspor Provinsi Jambi selama Januari hingga Mei 2026 mencapai 831,15 juta dolar AS, turun 5,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Singapura Masih Menjadi Tujuan Utama Ekspor
BPS juga mencatat Singapura masih menjadi negara tujuan ekspor terbesar bagi Provinsi Jambi pada Mei 2026 dengan nilai mencapai 98,46 juta dolar AS atau sekitar 43,19 persen dari total ekspor.
Posisi berikutnya ditempati Malaysia, Jepang, India, dan Amerika Serikat yang tetap menjadi pasar utama bagi berbagai komoditas ekspor asal Jambi.
Diversifikasi Dinilai Menjadi Kunci
Penurunan tajam ekspor batu bara menjadi sinyal bahwa ketergantungan terhadap komoditas primer masih menjadi tantangan bagi perekonomian daerah. Fluktuasi permintaan global dan perubahan harga komoditas memberikan dampak langsung terhadap kinerja perdagangan luar negeri.
Penguatan sektor industri pengolahan, peningkatan nilai tambah komoditas, serta diversifikasi pasar ekspor dinilai menjadi langkah strategis untuk menjaga stabilitas ekspor Jambi di tengah dinamika ekonomi global. Dengan struktur ekspor yang lebih beragam, perekonomian daerah diharapkan lebih tangguh menghadapi perubahan permintaan dan gejolak harga komoditas di pasar internasional.
